Hari pulang bukan sekadar tarikh di kalender. Hal itu adalah ruang waktu yang paling rapuh sekaligus paling utuh dalam hidup seorang perantau. Saat roda bas mulai berpusing meninggalkan hiruk-pikuk kota atau ketika pesawat mendarat di landasan kecil yang dahulunya hanya berupa lapangan rumput, sesuatu di dada bergetar perlahan seperti dawai yang disentuh angin setelah lama diam. Itu adalah getar rindu yang selama ini disembunyikan di sebalik rutin, kerja dan lampu neon yang tidak pernah padam.
Dalam sastera, hari pulang kerap muncul sebagai metafora terdalam tentang kembalinya jiwa kepada asalnya. Bukan hanya tubuh yang kembali ke tanah kelahiran, tetapi juga ingatan yang selama ini bercerai-berai di antara gedung-gedung tinggi. Seperti dalam lagu-lagu yang didendangkan setiap hari lebaran, pulang adalah upacara diam-diam yakni membersihkan debu kota dari sepatu, menatap wajah ibu yang semakin tua, mendengar suara ayah yang semakin perlahan dan merasakan bau tanah basah setelah hujan - bau yang tidak pernah ditemukan di apartemen sempit di Kuala Lumpur atau rumah sewa di Shah Alam.
Hari pulang adalah hari ketika waktu berhenti berlari. Di kota, waktu adalah musuh - selalu mengejar dan selalu kurang. Namun, begitu kaki menyentuh tanah kampung, waktu menjadi teman lama yang sabar menunggu. Pohon mangga di halaman belakang masih berdiri di tempat yang sama, meski buahnya kini lebih kecil dari ingatan masa kecil. Sumur tua di belakang rumah masih mengeluarkan air dingin yang sama, meski timbanya sudah berganti berkali-kali. Dan jalan setapak menuju sawah, yang dulu terasa begitu panjang saat kecil, kini terasa begitu pendek, seolah-olah jarak itu telah dipendekkan oleh kerinduan.
Namun, ada luka halus yang selalu ikut pulang. Kampung halaman tidak lagi sama. Sawah yang dahulu hijau membentang kini mulai ditelan perumahan. Warung kecil di hujung jalan sudah berganti pasar raya berlampu terang. Teman-teman masa kecil ada yang telah pergi selamanya dan ada yang berubah menjadi orang asing dengan cerita yang tidak lagi kita fahami. Bahkan ibu, yang dahulu seolah tidak pernah tua, kini berjalan lebih perlahan dan tangannya mulai menggigil saat membancuh teh. Hari pulang, justeru itu, juga adalah hari pertemuan dengan kehilangan. Kita pulang bukan untuk menemukan apa yang dahulu, melainkan untuk mengakui bahawa apa yang dahulu telah berubah sama seperti kita juga yang ikut berubah.
Dalam banyak cerpen dan puisi tentang kepulangan, terdapat satu pola yang berulang - kegembiraan pertama bertemu keluarga, lalu perlahan muncul keheningan. Percakapan yang dahulu mengalir deras kini terpotong oleh diam yang panjang. Anak kota yang terbiasa dengan kecepatan internet dan kopi bungkus-segera tiba-tiba merasa asing di depan tungku kayu dan suara ayam berkokok subuh. Pulang telah menjadi cermin iaitu kita melihat diri kita yang dahulu dan diri kita yang sekarang, berdiri berdampingan dalam ketidakcocokan yang menyakitkan sekaligus menyembuhkan.
Namun, di situlah keajaiban hari pulang terletak. Di tengah perubahan itu, terdapat sesuatu yang tetap iaitu akar. Akar yang tidak terlihat, tetapi menyangga seluruh pohon kehidupan. Saat malam tiba dan kita duduk di serambi sambil mendengar suara cengkrik yang sama seperti dua puluh tahun lalu, kita tiba-tiba faham bahawa pulang bukan tentang menemukan kampung yang sama, melainkan tentang menemukan kembali diri yang pernah utuh di sana. Kampung boleh berubah dan keluarga boleh menua, tetapi rasa aman yang dahulu ditanamkan oleh pelukan ibu dan doa ayah sebelum tidur serta tawa bersama saudara - rasa itu tidak pernah benar-benar hilang. Hal itu hanya tertidur, menunggu hari pulang untuk dibangunkan.
Hari pulang, pada akhirnya, adalah hari pengampunan. Pengampunan terhadap diri sendiri yang terlalu sibuk mengejar sesuatu di kota hingga lupa menelefon ibu. Pengampunan terhadap waktu yang telah mencuri begitu banyak kenangan. Dan pengampunan terhadap kampung yang tidak lagi seperti dahulu, kerana kampung pun sedang berusaha bertahan di tengah arus modernisasi.
Ketika akhirnya kita harus kembali ke kota - dengan beg yang lebih berat kerana oleh-oleh dan hati yang lebih ringan karena telah ‘diisi ulang’ yakni kita membawa sepotong kampung di dalam dada. Bukan tanahnya dan bukan juga rumahnya, tetapi getar-getar kecil yang membuat kita tahu - di mana pun kita berada, ada tempat yang selalu menunggu. Tempat di mana kita boleh menjadi anak kecil lagi, meski hanya sesaat.
Hari pulang bukan akhir perjalanan tetapi pengingat bahawa perjalanan sejati adalah perjalanan pulang ke akar diri, ke ranah asal dan ke tempat di mana jiwa pernah sepenuhnya menjadi milik diri sendiri. Dan meski esok kita harus kembali berlari di antara gedung-gedung yang tinggi, getar itu tetap ada, perlahan tetapi pasti, seperti denyut nadi yang tidak pernah berhenti memanggil. Panggilan untuk pulanglah lagi, suatu hari nanti - pulanglah.
0 comments:
Catat Ulasan
Terima kasih sebab sudi tinggalkan komen anda di entri ini. Setiap komen anda amat saya hargai. Walaubagaimanapun, saya kadang kala malas mahu membalas komen anda tetapi saya akan balas dengan mengunjungi blog anda semula. Pastikan komen anda tidak menghina mana mana individu, menyentuh isu perkauman, agama dan perkara perkara yang melanggar undang undang negara.