Ahad, 8 Mac 2026

TEMBOK

Di antara segala benda mati yang mengelilingi kehidupan manusia, tembok mungkin adalah yang paling diam, namun yang paling banyak berbicara. Tembok atau dinding sentiasa berdiri tegak, tanpa suara dan tanpa gerak tetapi menyimpan ribuan cerita -  tentang pemisahan dan perlindungan, tentang penjara dan rumah, tentang luka yang tidak terucap dan harapan yang tersembunyi di sebalik retak-retaknya. Tembok bukan sekadar susunan batu, simen dan cat malah adalah metafora terpanjang yang pernah ditulis oleh peradaban manusia ke atas dirinya sendiri.

Bayangkan tembok pertama yang dibangun manusia - bukan tembok kota besar seperti Tembok Besar Cina yang menjulang megah melintasi pegunungan, melainkan tembok sederhana dari ranting dan lumpur yang dipahat oleh tangan leluhur untuk melindungi api unggun dari angin malam. Di situlah tembok lahir sebagai pelindung - sebuah garis tipis antara kehangatan kehidupan dan kegelapan di luar. Tembok memberi rasa aman - membungkus keluarga dalam pelukan dingin yang kukuh. Namun, sejak saat itu pula, tembok mulai memiliki sisi gelap yakni memisahkan ‘kami’ dari ‘mereka’. Tembok menjadi batas yang tidak hanya fizik tetapi juga jiwa.

Dalam sastera, tembok sering muncul sebagai simbol paradoks. Tembok adalah penjara yang menindas sekaligus benteng yang menyelamatkan. Dalam banyak puisi, tembok digambarkan sebagai kekuatan yang menindas, membangun rumah mewah dan istana di atas tubuh rakyat yang miskin. 

Tembok dalam kesusasteraan bukan lagi pelindung tetapi penindas yakni metafora rejim yang menutup ruang bagi kehidupan yang rapuh dan bagi suara rakyat yang ingin bersemi. Tumbuhan yang membiak di sela-sela retak tembok menjadi lambang perlawanan iaitu kehidupan yang tetap mencari celah, meski dihimpit kekerasan struktural. Puisi tentang tembok bukan hanya kritik politik, tetapi juga adalah meditasi atas ketegangan abadi antara kekakuan kekuasaan dan kelenturan kehidupan.

Di luar dunia Melayu, tembok juga menjadi simbol universal. Dalam banyak cerita, tembok bukanlah sekadar fizikal, tetapi dinding impian yang tak terjangkau yakni jarak antara harapan dan kenyataan. Dalam beberapa cerita yang lain, tembok sering muncul sebagai labirin tanpa pintu, simbol absurditi eksistensi manusia yang terperangkap dalam sistem yang tidak boleh dipahami. Dan dalam puisi-puisi sufistik, tembok kadang-kadang menjadi metafora ego yakni dinding yang memisahkan diri dari Yang Maha Esa - yang harus dirobohkan agar jiwa boleh bersatu.

Namun begitu, tembok bukannya selalu negatif. Terdapat tembok yang kita bangun dengan sengaja untuk melindungi luka. Seorang perempuan yang tidur menghadap tembok, seperti dalam drama moden Melayu, bukan sedang menghindari dunia, melainkan mencari ruang aman di mana air matanya boleh jatuh tanpa disaksikan. Tembok menjadi saksi bisu dan pendengar setia yang tidak pernah menghakimi. Tembok sering kali menyerap getar tangis, menahan getar amarah dan diam-diam menjadi sebahagian dari penyembuhan.

Pada masa kini, ketika dunia semakin terhubung melalui telefon, tembok justeru semakin banyak dibangun. Terdapat tembok digital yakni algoritma yang menapis apa yang kita lihat sekaligus membentuk gelembung pendapat yang memisahkan kita daripada pandangan orang lain. Terdapat tembok identiti yakni prasangka kaum, agama dan  kelas sosial yang membuat kita melihat ‘orang lain’ sebagai ancaman. Terdapat juga tembok hati yang paling sulit diruntuhkan iaitu ketakutan untuk lemah, untuk dicintai dan untuk gagal.

Namun, di sela setiap tembok, selalu ada retak. Retak itu adalah tempat tumbuhan membiak, seperti yang kita lihat di rumah terbiar. Retak itu adalah celah cahaya yang menyusup, mengingatkan bahwa tidak ada tembok yang abadi. Bahkan Tembok Berlin yang sememangnya terkenal, simbol perang ideologi selama puluhan tahun, akhirnya roboh. Bukan karena palu dan pahat semata-mata, tetapi karena hasrat manusia untuk bersatu kembali dan untuk melintasi batas yang pernah dibuatnya sendiri.

Tembok, pada akhirnya, adalah cermin. Tembok mencerminkan apa yang kita takut, apa yang kita lindung dan apa yang kita tolak. Tembok berdiri tegak di hadapan kita secara diam, tetapi menuntut kita bertanya - tembok apa yang sedang kita bina pada hari ini? Apakah untuk melindungi atau untuk memenjarakan? Dan yang lebih penting, apakah kita berani merobohkan atau setidaknya, membiarkan retak-retak itu melebar, agar cahaya masuk, agar tumbuhan membiar dan agar kita tak lagi terpisah dari sesama kita?

Tembok tidak pernah benar-benar diam. Tembok hanya menunggu kita mendengar apa yang selama ini  dibisikkan - bahawa setiap pemisahan pada dasarnya adalah undangan untuk bertemu kembali.


0 comments:

Catat Ulasan

Terima kasih sebab sudi tinggalkan komen anda di entri ini. Setiap komen anda amat saya hargai. Walaubagaimanapun, saya kadang kala malas mahu membalas komen anda tetapi saya akan balas dengan mengunjungi blog anda semula. Pastikan komen anda tidak menghina mana mana individu, menyentuh isu perkauman, agama dan perkara perkara yang melanggar undang undang negara.